EKSISTENSI SAREN DI ERA MODERN

     Darah! Bagi sebagian orang, darah mungkin dianggap sebagai sesuatu yang tidak berguna, menjijikan, bahkan seringkali ada seseorang yang fobia atau takut ketika melihat darah. Bagi masyarakat awam, darah dipandang sebelah mata. Darah dianggap tidak memiliki manfaat bagi tubuh. Padahal darah pada binatang memiliki kandungan seperti karbohidrat, vitamin C, kalsium, air, zat besi, protein, serat, dan beta karoten. Berbeda halnya apabila ditangan mbah Suminah (68) dan mbah Rikem (71) darah dapat diolah menjadi saren/dideh. Tidak disangka-sangka bahwa di era modern seperti saat ini masih ada beberapa orang yang menjual saren. Diantaranya yaitu mbah Suminah dan mbah Rikem. Mbah Suminah menjual saren yang berasal dari darah ayam.  Saren ayam tersebut sudah di olah menjadi srundeng saren dan saren bakar, berbeda dengan mbah Suminah, mbah Rikem menjual saren yang berasal dari darah sapi mentah atau saren yang belum di olah. Terdengar aneh memang, akan tetapi di era sekarang ini eksistesi saren masih ada walaupun jumlah penjualnya tidak begitu banyak. Terutama di pasar Rakyat Slogohimo Wonogiri. 


Saren merupakan salah satu olahan tradisional dari darah, baik darah ayam, sapi, maupun babi. Saren bertekstur mirip dengan hati sapi berwarna hitam kemerahan, hanya saja hati sapi berserat dan lebih kaku, sedangkan saren lembut seperti tahu dan berongga. Peminat saren kebanyakan berasal dari kalangan orang yang telah lanjut usia” Ungkap mbah Suminah. Saren memiliki tempat sendiri di hati peminatnya oleh karena itu, hal tersebutlah yang mendasari mengapa saren masih dijual sampai saat ini. Alasan mbah Suminah dan mbah Rikem masih menjual saren karena saren sendiri masih memiliki banyak peminat disamping itu, alasan yang lain mengapa mbah Rikem dan mbah Suminah masih menjual saren di era modern seperti saat ini karena menjual saren merupakan salah satu mata pencariannya dari dahulu. Anak muda zaman sekarang mungkin hampir tidak pernah mengenal bagaimana rasa saren karena selain penjual saren yang jarang, perkembangan nilai-nilai agama juga berpengaruh terhadap peminat saren. Seperti di Agama Islam misalnya yang mengharamkan memakan darah karena dianggap banyak mengandung kemudhorotan dari pada manfaat. Darah sembelihan tidak hanya haram tetapi najis. Haramnya darah dijelaskan dalam al- Qur’an, Hadits, dan sudah menjadi ijma ulama.


Meskipun saren mengandung protein tinggi, jelas beresiko apabila dimakan. Dalam aliran darah terdapat bermacam-macam zat atau kandungan yang dapat membahayakan tubuh manusia. Membawa zat hasil metabolisme dan oksidasi seperti karbondioksida, racun-racun, dan urine untuk disaringi di paru-paru, ginjal, atau dikeluarkan lewat keringat. Jadi, darah tidak layak dijadikan bahan pangan. Mengonsumsi darah sama saja mengonsumsi berbagai racun yang ada dalam darah. Analisis kimia menunjukkan bahwa satu kandungan pada darah adalah asam urat. Asam urat adalah senyawa berbahaya yang berbahaya bagi tubuh dan darah memiliki kandungan zat besi, sehingga kandungan zat besi inilah yang menjadi salah satu alasan darah berbahaya dikonsumsi. Kandungan zat besi yang berlebihan dapat menyebabkan penyakit hemokromatis. Tidak hanya itu saja, masih banyak penyakit yang berbahaya apabila mengonsumsi darah seperti gagal ginjal, gangguan fungsi otak, iritasi selaput perut, gangguan fungsi usus, koma hepatic, peradangan sistematik, impotensi dan infertility, serta penyakit uremia.

Komentar