Pembelajaran Tatap Muka Tidak Jadi Di Gelar Awal Tahun 2021
Rencana pembukaan kembali kegiatan belajar mengajar tatap muka disekolah pada awal tahun 2021 menjadi perhatian khusus bagi para orang tua. Rencana tersebut disampaikan oleh Mentri Pendidikan dan Kebudayaan Nadim Makarim, melalui akun Youtube Kemendikbud pada 20 November 2020. Mengingat pembelajaran jarak jauh atau PJJ kurang lebih sudah dilaksanakan selama 8 bulan, sejak Covid-19 menyebar di wilayah Indonesia. Oleh karena itu, orang tua siswa diberi opsi atau pilihan mengenai apakah orang tua mengizinkan anak-anaknya untuk mengikuti pembelajaran secara tatap muka atau tidak. Namun jika melihat situasi saat ini belum memungkinkan untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka. Dikarenakan kasus penyebaran Covid-19 yang semakin meningkat. Tetapi dilain sisi anak-anak yang melakukan pembelajaran daring sudah merasa jenuh dan bosan. Mereka sering mengeluhkan mengenai sulitnya menerima materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Kebanyakan siswa yang melakukan pembelajaran daring mengalami kesulitan untuk mencari referensi pelajaran yang mereka terima, akibatnya siswa menjadi kurang paham mengenai materi yang diajarkan.
gambar dari TribunMadura.com
Beberapa pandangan para ahli mengenai pembelajaran tatap muka disekolah yang direncanakan akan dimulai pada awal tahun 2021.
Dr Muhammad Kamil selaku peneliti kanker otak Kagoshima University, Jepang meneliti sebuah presepsi masyarakat Indonesia terhadap kebijakan sekolah yang akan dibuka kembali. Dr Kamil beserta dengan kedua rekannya menciptakan sebuah akun instagram yang diberi nama Pandemic Talks. Akun tersebut menyajikan sebuah data-data resmi mengenai Coivid-19. Dr Kamil menggambil data dari google, karena menurutnya kebanyakan dari orang Indonesia mengakses informasi melalui Google. Dari data yang diperoleh tersebut Dr kamil menyimpulkan bahwa topik yang paling banyak dicari di google yaitu mengenai “sekolah corona”, “sekolah libur” dan “sekolah buka”. Selain itu Dr kamil juga menyajikan data mengenai jumlah kasus Covid-19 yang menginfeksi anak-anak Indonesia. data tersebut diperoleh dari Covid19.co.id per tanggal 20 Desember. Dari data tersebut ditemukan bahwa jumlah anak berusia 0-18 tahun yang terinfeksi Covid-19 mencapai 74,249 anak sekitar 11,5 % dari total kasus yang ada di Indonesia. Kemudian terdapat 56,817 kasus Covid-19 pada anak yang berusia 6-18 tahun. Selain itu jumlah anak yang berusia 0-18 tahun uang meninggal dunia akibat Covid-19 mencapai 530 anak, dengan tingkat kematian 0,7%. Dr Kamil juga memberikan informasi mengenau jumlah kasus Covid-19 pada anak yang berada di Pulau Jawa, mencapai angka 45. 180 kasus, dengan angka kematian 420 Jiwa.
PEMBELAJARAN JARAK JAUH TERPAKSA KEMBALI DILAKUKAN
Setelah dipastikan bahwa pembelajaran tatap muka batal dilakukan, maka dengan terpaksa para siswa dan guru harus tetap melanjutkan sistem pembelajaran jarak jauh pada tahun ajaran 2020/2021. Langkah ini diambil agar proses belajar mengajar tetap berjalan, meskipun banyak kendala yang dihadapi selama proses pembelajaran. Tentunya banyak siswa dan orang tua siswa yang mengalami kekecewaan karena pembelajaran secara tatap muka batal untuk dilaksanakan. Pasalnya banyak siswa yang stres untuk mengikuti PJJ dikarenakan banyak kendala yang dihadapi selama proses PJJ tersebut. Selain itu, tidak semua siswa memiliki fasilitas yang memadai untuk melakukan pembelajaran daring dan juga masalah kuota internet yang cepat habis menyebabkan para orang tua merasa sedikit kewalahan. Namun saat ini orang tua tidak perlu khawatir lagi mengenai kuota internet yang boros, karena pemerintah memberikan bantuan kuota belajar kepada seluruh siswa ataupun mahasiswa. pembelajaran jarak jauh pada tahun ajaran 2020/2021 tidak jauh berbeda dengan tahun ajaran sebelumnya. Guru menggunakan media pembelajaran berupa google class room, grub Whatsapp, dan platfom lainnya. Dengan menggunakan platfom tersebut guru memberikan materi pembelajaran kepada siswa.
SISWA MULAI TERBIASA DENGAN SISTEM PEMBELAJRAN JARAK JAUH
Saat ini, para siswa rata-rata sudah tidak mengeluhkan mengenai sulitnya pembelajaran daring yang mereka lakukan. Hal tersebut, Mengingat pembelajaran jarak jauh sudah dilakukan hampir 8 bulan, para siswa sudah mulai terbiasa dengan sistem pembelajaran daing. Oleh karena itu, untuk saat ini siswa mulai merasa enjoy dengan sekolah daring/ sekolah online. Meskipun demikian, mereka juga teteap ingin merasakan kembali sekolah normal seperti sediakala.
Komentar
Posting Komentar